Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tafsir Surat AlFatihah Ayat 4



“Yang Merajai Hari Pembalasan”
Hikmah dalam ayat ini :
1. Sifat Allah swt. “al-Malik” adalah kata sifat ketiga yang sering disebut oleh setiap orang beriman dalam shalatnya, setelah sifat ar-rahman dan ar-rahim. Ini mengisyaratkan kepada kita bahwa salah satu sifat Allah swt. yang harus senantiasa diingat oleh kaum muslimin adalah bahwa Allah swt. adalah “al-Malik” yang artinya adalah penguasa di alam semesta, baik ketika di dunia ataupun kelak di “yaumid din” yaitu hari pembalasan. Ini mengandung hikmah bahwa setiap perbuatan dan perkataan yang kita lakukan, akan mendapat balasan dari Allah swt. sekecil apapun.
            Oleh karena itu, waspadalah kita dari membuat kesalahan terhadap sesama manusia, karena ia tidak akan bisa terhapus kecuali dengan meminta maaf kepada orangnya secara langsung.


2. Dalam ayat ini, Allah swt. menyebutkan sifat “al-Malik” (Maha Raja) yang dimiliki-Nya dengan kalimat “yaumid din” (Yang Merajai hari pembalasan). Hal ini mengandung hikmah bahwa kita sebagai manusia –khususnya orang-orang yang beriman- harus senantiasa ingat dan sadar bahwa akan ada hari pembalasan atas setiap amal perbuatan yang kita lakukan sekecil apapun. Sebagaimana firman Allah swt.:
“Maka barangsiapa yang melakukan kebaikan sebesar debu, maka ia akan mendapatkan balasannya (7). Dan barangsiapa yang melakukan keburukan sebesar debu, maka ia pun akan mendapatkan balasannya (8).
(al-Zalzalah: 7-8)

3. Dalam ayat ini pula, Allah swt. mengingatkan kepada kita bahwa dosa yang tidak bisa diampunkan hanya dengan permohonan ampun kepada Allah swt, adalah dosa perbuatan buruk dan kezhaliman terhadap sesama manusia, khususnya sesama muslim. Semua kejahatan, ucapan buruk, benci, perampasan hak, kecurangan dalam berbagai hal, ketidak adilan dan lain-lain akan dibalas oleh Allah swt. di akhirat kelak dengan memberikan amalan baik kita kepada orang-orang yang telah kita zalimi. Semakin banyak orang yang kita sakiti dan zalimi, semakin banyak pula kebaikan kita yang hangus dan pahalanya hanya diterima oleh orang-orang yang telah kita sakiti.
            Jika kebaikan kita pun habis, sementara masih ada orang-orang yang kita zalimi, maka dosa orang-orang yang kita zalimi akan dibebankan kepada kita. Hingga selesailah urusan kita dengan orang-orang tersebut, dan kita menjadi orang-orang yang bangkrut.



4. Hari pembalasan adalah hari dimana keadilan ditegakkan setegak-tegaknya oleh sang penguasa hari pembalasan, yaitu Allah swt. Jika di dunia ini keadilan seringkali diperjual belikan, kebenaran seringkali berpihak kepada kelompok yang berkuasa dan berharta, maka pada hari pembalasan ini semuanya diluruskan oleh sang maha pemilik keadilan, yaitu Allah swt. Siapakah yang mampu untuk berjual beli keadilan dan kebenaran di hadapan Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu itu ?
            Inilah makna dan hikmah hari pembalasan, yaitu ketika Allah swt. bertindak langsung sebagai hakimnya, dalam memutuskan berbagai persoalan seadil-adilnya. Dalam ayat lain, Allah swt. bertanya kepada kita, sebagaimana dalam surat al-Mu’min ayat 16 :
“…Milik siapakah kerajaan pada hari ini, tentunya hanya milik Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”. (al-Mu’min: 16)
            Dalam ayat ini Allah swt. bertanya kepada semua manusia “Siapakah yang berkuasa pada hari pembalasan itu ? Apakah ada mahluk lain yang mampu mempermainkan keadilan sebagaimana di dunia dahulu ? Sudah sangat kita pahami bahwa jawabannya adalah tidak. Yaitu tidak ada Dzat ataupun mahluk lain yang berkuasa pada saat hari pembalasan tiba, selain Allah swt. Kalaupun ada, dan seandainya ia menentang putusan-putusan Allah swt., maka Allah swt. telah memastikan bahwa ia pasti akan tetap tunduk dan dikalahkan oleh kekuasaan-Nya. Inilah rahasia mengapa ketika menjawab pertanyaan siapa yang berkuasa pada hari kiamat dalam ayat di atas, Allah swt. nama dan sifat-Nya yang agung, yaitu “al-Qahhar” Yang Maha Mengalahkan.

Wawasan:
1. Dalam Ilmu Qira’ah, Kata “Maaliki” dibaca pula dengan “Maliki” dengan membuang mad pada huruf mimnya. Keduanya adalah riwayat yang kuat dari Nabi saw.

2. Kalimat “Yaumud din” memiliki beberapa penafsiran yang disampaikan oleh para ulama tafsir, yaitu:
1)Maknanya adalah “al-hisab” yaitu hari perhitungan amal dan pembalasannya. Hal ini menurut Ibnu Jarir dalam tafsirnya.

2) Maknanya adalah tidak ada seorang pun yang menjadi penguasa pada hari itu dengan membawa hukum sebagaimana kekuasaan mereka di dunia. Hari itu adalah hari penghisaban semua mahluk. Pada hari itu pula mendapat balasan atas amal-amal mereka, jika amalannya baik maka ia akan mendapat balasan kebaikan. Jika amalnya buruk, maka ia akan mendapat keburukan. Kecuali orang-orang yang mendapat ampunan  dari Allah swt. Hal Ini menurut Ibnu Abbas.

3) Maknanya adalah hari perhitungan; menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.
4) Maknanya adalah hari dimana Allah swt. membalas para hamba-Nya sesuai dengan amalan mereka; Menurut Qatadah.
5) Hari dimana manusia dibalas melalui perhitungan terlebih dahulu. Menurut Ibnu Juraij.
            Semua pendapat yang disampaikan oleh para ulama di atas memiliki kesamaan makna, yaitu hari perhitungan segala amal yang nantinya akan menetukan balasan yang setimpal terhadap amalan para hamba dari kalangan jin dan manusia. Jika timbangan kebaikan mereka lebih berat, maka akan berakhir di surga. Namun jika timbangan kebaikannya ringan, maka ia akan menjadi penghuni neraka.

3. Dalam al-Qur’an, hari pembalasan memiliki beberapa gambaran, yaitu:
a. Tidak ada kekuasaan dan kekuatan lain, selain kekuasaan Allah swt. (al-Mu’min: 16)
b. Penuh berbagai kesulitan bagi orang kafir (al-Furqan:26)
c. Malaikat dan ruh berdiri bersaf-saf, tidak berkata-kata kecuali yang diberi izin oleh Allah swt. dan perkataan pada hari itu semuanya adalah kebenaran. (an-Naba:38)
d. Semua mahluk hanya berkata dengan bisikan (Thaha:108)
e. Hari itu ada yang celaka dan ada yang bahagia (Hud:105)
f. Diadakan pembalasan yang setimpal atas semua amal (an-nur:25)
g. Tidak ada satu masalahpun yang disembunyikan, dan manusia langsung berhadapan dengan Allah swt. (al-Haqah:18)
h. Manusia dibangkitkan untuk diberi balasan (as-Saffat:53)

***
Bolano, 21 Februari 2019/16 Jumadil Akhir 1440 H
Khadim Alquran wa as-Sunnah

Aswin Ahdir Bolano



Post a Comment for "Tafsir Surat AlFatihah Ayat 4"

Buku sejarah 25 Nabi Balita